Artikel 2

Posted: January 9, 2010 in 1

PENJUAL NASI UDUK

Kesibukan dimulai dari jam 03.00 pagi, yang sebelumnya beliau sudah melakukan yang jadi kebiasaan sehari-hari yaitu shalat tahajud, yang kemudian membangunkan anak pertamanya untuk membantu memasak beberapa jenis kue untuk tambahan dagangan nasi uduk. Namanya Hj.Masturoh tapi dlingkungan sekitar situ sudah akrab memanggilnya dengan sebutan “bu aji atau ibu haji”.

Tempat berjualannya pun hanya beberapa meter saja dari tempat tinggalnya, hanya sebuah meja dan kursi untuk bu aji duduk menuggu pembeli datang. Jam 06.00 dibantu kedua anak yang pertama dan kedua itupun hanya membantu membawakan barang dagangan ketempat ibunya berjualan karena anak yang pertama baru masuk kuliah dan yang satunya lagi duduk dibangku smp dan yang satu lagi sikecil anak sulung yang berusia 3 tahun yang selalu menemani ibunya berdagang kadang selalu merepotkan tetapi menjadi buah senyuman dikala bu aji sedang menuggu pembeli datang.

Senyum yang penuh harapan ketika anak-anak mereka berangkat yang tak lupa mencium tangan ibunya, maklum bu aji hanyalah pendidikan sekolah yang tak sampai lulus SD, tapi bangga apa yang telah dicapai sampai detik ini karena bisa menyekolahkan anak-anaknya,bersyukur karena anaknya mendapat beasiswa dan masuk di salah satu Universitas Negeri yang ada di Jakata. Yang kemudian bu aji mencium sikecil sambil berkata,”ehh tinggal si dede nih yang belum sekolah…..”.

Kebanyakan pembeli yang datang adalah orang-orang yang sudah sangat kenal dengan bu aji, kadang yang beli uangnya kurang, kadang tidak sesuai dengan harga dagangan. Bu aji tidak mempermasalahkan besar kecilnya keuntungan hasil dari dagangannya dan ikhlas, karena semua itu dari rezeki sampai takdir bagi hambanya sudah diatur ALLOH SWT. Bersyukur apa yang sudah didapat dari jerih payah karena uang hasil tersebut akan sangat diridoi untuk biaya sehari-hari termasuk biaya pendidikan. Tidak selalu dagangan habis terjual, biasanya yang tersisa hanya dagangan kue saja kemudian bu aji pun membawa kue tersebut ke warung yang sudah biasa bu aji titip dagangan, dengan hasil yang di bagi dua dengan pemilik warung .

Rambut yang kian memutih dan sekujur tubuh yang mulai keriput tak letih bu aji terus berdagang tak peduli usia yang sudah menua. Memandang dari kejauhan si anak pertama melihat ibunya berdagang, dia tidak bersedih tapi prihatin dan dia pun tak perduli dengan perasaannya itu karena hanya akan menghambat keinginanan cita- cita dari orang tuanya karena kelak dia yang menjadi tulang punggung bagi keluarga. Dan bangganya bu aji yang bisa menemani anaknya untuk melihat anaknya wisuda serta mengundang para tetangga di acara syukuran bagi anaknya.

Selang beberapa lama, kesibukan jualan nasi uduk bu aji terhenti dan banyak warga yang biasa jadi pelanggan bu aji bertanya,”kok tumben ya,bu aji  kagak dagang?” ,mungkin sakit kali ya.. ujarnya salah satu ibu yang lain dengan berbahasa betawi itu. Bu aji memang sudah tidak berjualan lagi, harus beristirahat setelah mengalami kecelakaan saat bu aji menggoreng bakwan, pijakan kaki kompor sumbu itu memang sudah patah dan hanya di ganjal dengan sebuah balok kayu, kemudian bu aji tanpa sengaja menyenggol balok tersebut yang mengakibatkan bu aji kesiram minyak goreng dan mengenai tangan kanan dan juga kaki kanannya.

Setelah kejadian itu bu aji dilarang sama anak pertamanya untuk tidak jualan lagi,kareana si anak sudah merasa mampu untuk menggantikan sosok ayahnya yang sudah lama meninggal. “biarlah ibu sekarang menikmati hasil dari keringat saya karena ibu adalah orang yang sangat berarti dan pahlawan menurut saya”  gumam si anak yang matanya berkaca-kaca menahan nangis,mengingat ibu yang sedang berjualan dan kondisinya sekarang ini. Si anak telah berhasil mewujudkan impian ibunya dan bangga menjadi anak penjual nasi uduk.

Keberhasilan terwujud bukan dari semangat dan kegigihan yang selama ini kita lakukan,tetapi doa permohonan ibu yang tiada henti selalu beliau ucapkan yang terbaik buat anaknya yang tidak pernah beranjak dari hambal sajadahnya,sampai kapan pun kita bagi kaum adam tidak akan sanggup membalas semua apa yang sudah beliau berikan ke kita kecuali amal perbuatan dan doa yang selalu kita ucapkan untuk beliau.Dan saya dedikasikan kepada ibu-ibu yang telah memberikan kasih sayang dan pendidikan bagi putra dan putri yang tercinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s